Pusat Jam Digital Masjid Murah Bergaransi

Pusat Produksi dan Jual Jam Digital Masjid - Jadwal Waktu Sholat Abadi Murah Bergaransi untuk Masjid, Jam Adzan dan Iqomah Otomatis. Hub: 0812 2890 1300

Produsen Jam Digital Masjid
Jadwal Sholat Digital
Jam Digital Waktu Adzan
Hitung Mundur Iqomah
Running Teks
Produk Digital LED
————–
Pemesanan
Konsultasi Produk
Free Ongkir/Subsidi Ongkir
WA: 0812 2890 1300
————–
Cara Setting / Service Kerusakan

Powered by Genesis

Keutamaan dan Sifat Shahabat Nabi ﷺ

April 4, 2021 by Jam Digital Masjid Leave a Comment

Para sahabat Nabi Muhammad ﷺ adalah manusia biasa sebagaimana diri kita. Akan tetapi Allah telah mengangkat mereka ke derajat yang sangat tinggi karena kemampuan mereka menundukkan hawa nafsu dan setan demi mengikuti Allah dan rasul-Nya serta mengorbankan apa pun demi meraih keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Akhirnya mereka diberi predikat oleh Allah Ta’ala sebagai umat terbaik yang pernah ditampilkan untuk umat manusia. Generasi sebelum dan sesudah mereka tidak mampu menyamai prestasi hidupnya.

Mereka menjadi role model masyarakat yang ideal. Mereka memiliki banyak keutamaan dan sifat-sifat yang unggul. Tulisan ini akan mengulasnya dengan gamblang.

Hadits Tentang Shahabat Nabi

Hadits-hadits yang berisi tentang para sahabat Nabi ﷺ banyak sekali jumlahnya. Berikut ini sejumlah kecil hadits tentang para sahabat Nabi ﷺ sekedar sebagai gambaran saja.

  1. Hadits Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu.

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «لا تسبوا أصحابي فوالذي نفسي بيده لو أنفق أحدكم مثل أحد ذهباً ما بلغ مدّ أحدهم ولا نصيفه

رواه البخاري ومسلم والترمذي وأبوداود. واللفظ للترمذي

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, ”Rasulullah ﷺ bersabda, ”Kalian jangan mencaci maki para sahabatku. Demi Yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya salah seorang dari kalian berinfaq emas sebesar gunung Uhud, hal itu tidak akan mencapai infaq salah seorang sahabatku sebesar satu mud atau setengahnya.” [Hadits riwayat Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan At-Tirmidzi dan lafazh hadits ini dari at-Tirmidzi]

  1. Hadits Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu

عن عمران بن حصين رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «خير الناس قرني ثم الذين يلونهم، ثم الذين يلونهم ] أخرجه البخاري ومسلم والترمذي، وكذلك أبو داود والنسائي بلفظ آخر[

Dari Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda, ”Sebaik-baik manusia adalah pada generasiku kemudian generasi setelah mereka kemudian generasi sesudahnya.” [Hadits riwayat Al-Bukhari, Muslim dan at-Tirmidzi. Demikian pula Abu Dawud dan An-nasa’i dengan lafazh yang lain]

  1. Hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu.

عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «إذا رأيتم الذين يسبون أصحابي، فقولوا: لعنة الله على شركم] أخرجه الترمذي في المناقب[

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, ”Rasulullah ﷺ bersabda,’Apabila kalian melihat orang-orang yang mencaci maki para sahabatku maka katakan kepada mereka: “Semoga Allah melaknat kejahatan kalian.” [Hadits riwayat at-Tirmidzi dalam Al-Manaqib]

  1. Hadits Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu

عن العرباض بن سارية، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إنه من يعش منكم فسيرى اختلافاً كثيرًا، فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين عضوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور، فإن كل بدعة ضلالة ] رواه أحمد وأبو داود والترمذي وابن ماجة، وقال الترمذي: حديث حسن صحيح،[

Dari Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, ”Rasulullah ﷺ bersabda,’Siapa saja di antara kalian yang berumur panjang maka akan melihat adanya banyak perselisihan. Oleh karena itu hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnah para khalifah yang lurus (al-Khulafa’ Ar-Rasyidun). Gigitlah dengan gigi geraham kalian. Jauhilah perkara-perkara baru (dalam agama). Sesungguhnya semua bid’ah itu sesat.’

[Hadits riwayat Ahmad , At-Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah. At-Tirmidzi berkata, ”Hadits hasan shahih.”][i]

Pengertian Shahabat Nabi

Mengenai pengertian sahabat Nabi ﷺ ada banyak ungkapan dari para ulama. Namun di sini hanya akan dijelaskan secara ringkas saja.

– Pengertian Secara Bahasa

Kata صَحَابِيّ ‘sahabat’ merupakan bentuk tunggal dari kata ‘صَحَابَة’ ‘sahabat-sahabat’, yang disandarkan kepada mereka, bentuk pecahan kata dari kata صحب . Para ahli bahasa telah sepakat bahwa kata itu menunjukkan kepada ittiba’ ‘mengikuti’, mulaazamah ‘persahabatan’ dan ‘mu’aasyarah’ ‘berkawan’

Kata الصَّحَابَة ‘ash-Shahabah’ dan أَصْحَاب ‘ash-haab’ dipakai secara umum dengan makna orang yang mengikuti orang lain atau orang yang menganut suatu pemikiran atau jalan.

Hal ini sebagaimana ungkapan: ﷺ اصحاب الرسول ‘Ash-haabur rasuuli ﷺ dan اصحاب الحديث ‘ash-haabul hadits’ dan اصحاب الإمام أحمد ‘Ash-haabul Imam Ahmad’ dan seterusnya. Pada dua ungkapan terakhir dan yang semisal dengannya merupakan penyebutan umum secara majazi (kiasan bukan hakiki)[ii]

– Pengertian Secara Istilah

Pengertian sahabat yang masyhur di kalangan para ahli hadits adalah orang yang berjumpa dengan Nabi ﷺ dalam keadaan beriman kepadanya dan meninggal di atas Islam meskipun pernah murtad.

Pengertian ini mencakup pria, wanita, orang merdeka dan Mawali, dan orang-orang yang persahabatannya sedikit atau banyak, dan orang yang melihatnya namun tidak bergaul dengannya dan selain itu, hingga orang yang buta dari kalangan mereka.

Inilah definisi sahabat yang benar yang didukung oleh makna secara bahasa. Juga didukung oleh pengertian sahabat dalam al-Quran, sebagaimana firman Allah Ta’ala tentang Nabi ﷺ:

مَا بِصَاحِبِكُمْ مِنْ جِنَّةٍ

”Tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu.” [Saba’: 46]

dan firman-Nya:

وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُونٍ

”Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila.” [At-Takwir: 22]

Telah shahih dari Nabi ﷺ sabdanya dalam sejumlah hadits: “Berbahagialah orang yang telah melihatku.” Dan sabdanya: “Api neraka tidak akan menyentuh seorang Muslim yang melihatku.”

Dalil-dalil ini dan yang lainnya seluruhnya menunjukkan atas kemutlakan persahabatan dan melihat Nabi ﷺ. Dalil-dalil tersebut tidak menjelaskan tentang kadar tertentu dari persahabatan dan melihat Nabi ﷺ. Wallahu a’lam.[iii]

Kedudukan Shahabat Dalam Islam

Para sahabat Nabi Muhammad ﷺ merupakan generasi umat manusia yang memiliki kedudukan sangat tinggi dalam Islam dengan derajat kebaikan yang belum pernah dicapai sebuah generasi pun sebelumnya maupun sesudahnya.

Mereka mendapatkan pujian langsung dari Allah Ta’ala dan Rasul-Nya ﷺ dalam banyak ayat dan hadits. Mencintai mereka merupakan bagian dari iman dan membenci mereka bisa jadi merupakan kekafiran atau kemunafikan atau tindak melampaui batas.

Siapa saja yang berani merendahkan dan mencaci kehormatan mereka maka akan mendapatkan laknat Allah, para malaikat dan umat manusia seluruhnya sebagaimana dinyatakan alam hadits dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

Rasulullah ﷺ bersabda,

مَن سب أصحابي فعليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين

”Siapa yang mencaci para sahabatku maka ia akan mendapatkan laknat Allah, para Malaikat dan manusia seluruhnya.” [Hadits riwayat Ath-Thabrani]

Mereka manusia biasa yang bisa saja khilaf dan bersalah namun Allah Ta’ala memberi ampunan keapda mereka terhadap kesalahan tersebut yang tidak Allah berikan kepada selain mereka.

Hal itu, karena kebaikan mereka di masa sebelumnya yang begitu besar, tulus dan melimpah ruah. Mereka memang generasi terbaik yang pernah dilahirkan dalam sejarah umat manusia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْراً لَّهُم مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ -١١٠-

Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun keba-nyakan mereka adalah orang-orang fasik. [Ali imran: 110]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

ومن نظر في سيرة القوم بعلم وبصيرة ، وما منَّ الله عليهم به من الفضائل علم يقينا أنهم خير الخلق بعد الأنبياء لا كان ولا يكون مثلهم ، وأنهم الصفوة من قرون هذه الأمة التي هي خير الأمم ، وأكرمها على الله]العقيدة الواسطية / 43 [.

“Siapa saja yang mengkaji dengan ilmu dan bashirah tentang sejarah hidup para sahabat dan berbagai keutamaan yang Allah karuniakan kepada mereka, akan mengetahui secara yakin bahwa mereka itu adalah makhluk terbaik setelah para Nabi yang belum pernah ada dan tidak akan pernah ada lagi yang semisal mereka. Sesungguhnya mereka itu orang-orang pilihan dari generasi umat ini yang merupakan umat terbaik dan yang paling mulia di sisi allah.” [Aqidah Wasithiyah, hal. 43][iv]

Keutamaan Shahabat Nabi

Dr. Nayif bin Ahmad al Hamd mengatakan bahwa keutamaan para sahabat disebutkan dalam banyak ayat dan hadits. Di antara keutamaan para sahabat adalah:[v]

  1. Allah Ta’ala telah meridhai mereka

Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ -١٠٠-

Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah Rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Allah Menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung. [At-Taubah: 100]

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحاً قَرِيباً -١٨-

Sungguh, Allah telah Meridai orang-orang Mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon, Dia Mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia Memberikan ketenangan atas mereka dan Memberi balasan dengan kemenangan yang dekat. [Al-Fath: 18]

  1. Infaq para sahabat bernilai jauh lebih besar dibandingkan infaq selain mereka.

Hal ini sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم- ( لا تسبوا أصحابي لا تسبوا أصحابي فوالذي نفسي بيده لو أن أحدكم أنفق مثل أحد ذهبا ما أدرك مد أحدهم ولا نصيفه] رواه البخاري (3470 ) ومسلم (2540) واللفظ له[

”Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata,’Rasulullah ﷺ bersabda, ”Janganlah kalian mencaci maki para sahabatku. Demi Yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya salah seorng dari kalian berinfaq emas semisal gunung Uhud, hal itu tidak akan sebanding dengan infaq salah seorang dari mereka sebesar satu Mud atau setengahnya.” [Hadits riwayat Al-Bukhari 3470 dan Muslim 2540. Ini Lafazh Muslim]

  1. Amal shaleh shahabat lebih tinggi nilainya dibandingkan selain mereka.

Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَمَا لَكُمْ أَلَّا تُنفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا يَسْتَوِي مِنكُم مَّنْ أَنفَقَ مِن قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُوْلَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِّنَ الَّذِينَ أَنفَقُوا مِن بَعْدُ وَقَاتَلُوا وَكُلّاً وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ -١٠-

Dan mengapa kamu tidak menginfakkan hartamu di jalan Allah, padahal milik Allah semua pusaka langit dan bumi? Tidak sama orang yang menginfakkan (hartanya di jalan Allah) di antara kamu dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menginfakkan (hartanya) dan berperang setelah itu. Dan Allah Menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah Maha Teliti apa yang kamu kerjakan. [Al-Hadid: 10]

  1. Generasi mereka adalah generasi terbaik.

Hal ini sebagaimana dalam hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

خير الناس قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم

رواه البخاري ( 2509) ومسلم ( 2533 )

”Sebaik-baik generasi adalah generasiku, kemudian generasi sesudahnya kemudian generasi sesudahnya.” [Hadits riwayat Al-Bukhari (2533) dan Muslim (2509)]

  1. Para sahabat merupakan pelindung umat Islam

Hal ini sebagaimana dalam hadits Abu Bardah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, ”Rasulullah ﷺ bersabda,

النجوم أمنة للسماء فإذا ذهبت النجوم أتى السماء ما توعد ، وأنا أمنة لأصحابي فإذا ذهبت أتى أصحابي ما يوعدون ، وأصحابي أمنة لأمتي فإذا ذهب أصحابي أتى أمتي ما يوعدون ] رواه مسلم[ ( 2531 ) .

“Bintang-bintang adalah penjaga langit. Apabila bintang-bintang itu lenyap maka terjadilah pada langit itu apa yang telah dijanjikan. Dan aku adalah penjaga para sahabatku. Apabila aku telah tiada maka akan menimpa para sahabatku apa yang telah dijanjikan. Dan para sahabatku adalah para penjaga bagi umatku. Apabila para sahabatku telah tiada maka akan menimpa umatku apa yang telah dijanjikan.” [Hadits riwayat Muslim (2531)]

Kewajiban Kita /Adab kepada Shahabat Nabi

Shahabat Nabi ﷺ memiliki hak atas umat Islam seluruhnya. Tidak satu pun dari umat Islam setelah generasi sahabat kecuali mendapati banyaknya jasa mereka kepada Islam dan kaum Muslimin.

Islam sampai kepada kita dari Nabi ﷺ secara utuh tanpa penambahan dan pengurangan adalah melalui mereka. Memenuhi hak-hak mereka menjadi kewajiban kita semua.

Kewajiban umat Islam kepada para sahabat Nabi ﷺ sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Abdullah bin Shalih al-Qushayyir adalah sebagai berikut:[vi]

  1. Mengakui keutamaan mereka, membersihkan hati jangan sampai membenci mereka atau memiliki kedengkian terhadap salah seorang dari mereka.
  2. Mencintai mereka dengan hati dan memuji mereka dengan lisan karena keterdahuluan mereka dalam kebaikan, keutamaan mereka.
  3. Mengambil dari mereka serta mengikuti mereka dengan baik dalam hal ilmu, amal, dakwah, amar makruf dan nahyi mungkar, bermuamalah dengan umat secara umum dan bersikap keras kepada musuh agama.
  4. Memohonkan rahmat dan ampunan untuk mereka.

Hal ini merupakan perwujudan firman Allah Ta’ala:

وَالَّذِينَ جَاؤُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ -١٠-

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang.”

[Al-Hasyr: 10]

  1. Menahan diri dari memasuki perselisihan yang ada di antara mereka dan meyakini bahwa mereka adalah para mujtahid yang mendapatkan pahala. Yang benar mendapatkan dua pahala dan yang keliru satu pahala, kesalahannya diampuni karena ijtihadnya.
  2. Bersikap waspada dari menyebarkan berbagai keburukan yang disandarkan kepada para sahabat. Sesungguhnya sebagian besar merupakan kedustaan yang diada-adakan oleh para pengikut hawa nafsu, orang-orang yang melampaui batas (ekstrim) dan fanatisme.
  3. Meyakini keharaman mencaci mereka atau salah seorang dari mereka. Melaknat para sahabat lebih keras haramnya daripada mencaci mereka karena hal itu merupakan bentuk pendustaan terhadap Allah Ta’ala dalam hal tazkiyah dan pujian Allah terhadap mereka dan janji kebaikan untuk mereka.

Selain itu, juga merupakan bentuk adab yang buruk terhadap Nabi ﷺ yang telah melarang dari mencaci mereka. Demikian juga, hal itu merupakan kezhaliman terhadap para sahabat dan serangan terhadap mereka padahal mereka adalah para wali Allah yang istimewa setelah para nabi dan rasul.

Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَاناً وَإِثْماً مُّبِيناً -٥٨-

Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan, tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh, mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. [Al-Ahzab: 58]

Dalam hadits Qudsi yang shahih Allah berfirman, ”Siapa saja yang memusuhi seorang wali-Ku, maka sungguh Aku telah mengumumkan perang kepadanya…”

Sifat Para sahabat Nabi

Allah Subhanahu wa ta’ala telah memberikan gambaran yang jelas dan banyak tentang sifat – sifat para sahabat Nabi ﷺ, di antaranya adalah sebagai berikut:[vii]

  1. Bersikap keras kepada orang kafir dan bersikap lemah lembut di antara sesama mereka.
  2. Banyak ruku’ dan sujud untuk mengharap fadhilah dari Allah dan ridha-Nya.

Dua sifat pertama ini tergambar dalam firman Allah Ta’ala berikut:

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعاً سُجَّداً يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَاناً سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ

Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang ka-fir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud. [Al-Fath: 29]

  1. Hati mereka bisa tenang dengan berdzikir kepada Allah.

Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ

”(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” [Ar-Ra’du: 28]

Sufyan rahimahullah berkata mengenai ayat ini, ”Mereka ini adalah para sahabat Muhammad ﷺ.” [Riwayat Sa’id bin Manshur: 5/ 435]

  1. Mulia dan banyak berbakti.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

بِأَيْدِي سَفَرَةٍ -١٥- كِرَامٍ بَرَرَةٍ -١٦-

”di tangan para utusan yang mulia lagi berbakti.” [‘Abasa: 15-16]

Wahab bin Munabbih rahimahullah berkata mengenai ayat ini, ” Mereka adalah para sahabat Muhammad ﷺ. [Tafsir Ibnu Katsir : 4/472]

  1. Senantiasa membaca al-Quran dan mengamalkannya.

Allah Ta’ala berfirman,

يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلاوَتِه

“Mereka membacanya sebagaimana mestinya..” [Al-Baqarah: 121]

Qatadah berkata tentang firman Allah Ta’ala tersebut demikian, ” Mereka adalah para sahabat Muhammad ﷺ. Mereka beriman dan mengamalkan apa saja yang menjadi tuntutan iman tersebut.” [Fathul Bari 13/508]

  1. Hatinya baik
  2. Ilmunya dalam
  3. Paling sedikit sikap takalluf-nya (takalluf adalah sangat memaksakan diri untuk melakukan atau mengatakan sesuatu yang tidak ada manfaatnya)
  4. Petunjuknya paling lurus
  5. Keadaannya paling baik.

Sifat ke-enam hingga ke 10 itu berdasarkan penggambaran Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu tentang para sahabat Nabi Muhammad ﷺ. Abdullah bin Mas’ud berkata,

والصحابة أبر هذه الأمة قلوبا ، وأعمقها علما ، وأقلها تكلفا ، وأقومها هديا ، وأحسنها حالا اختارهم الله لصحبة نبيه -صلى الله عليه وسلم- وإقامة دينه

“Para sahabat adalah orang yang hatinya paling baik di kalangan umat ini, paling mendalam ilmunya, paling sedikit takalluf-nya, paling lurus petunjuknya dan paling bagus keadaannya. Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya ﷺ dan menegakkan agama-Nya.” [Tafsir Al-Qurthubi: 1/ 60]

Hukum Mencela Shahabat Nabi

Mencela sahabat Nabi Muhammad ﷺ hukumnya haram berdasarkan hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

لا تسبوا أصحابي لا تسبوا أصحابي فوالذي نفسي بيده لو أن أحدكم أنفق مثل أحد ذهبا ما أدرك مد أحدهم ولا نصيفه ] رواه البخاري (3470 ) ومسلم (2540) واللفظ له[

”Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata,’Rasulullah ﷺ bersabda, ”Janganlah kalian mencaci maki para sahabatku. Demi Yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya salah seorng dari kalian berinfaq emas semisal gunung Uhud, hal itu tidak akan sebanding dengan infaq salah seorang dari mereka sebesar satu Mud atau setengahnya.” [Hadits riwayat Al-Bukhari 3470 dan Muslim 2540. Ini Lafazh Muslim]

Juga sabda Rasulullah ﷺ yang lain dari riwayat Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

مَن سب أصحابي فعليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين

”Siapa yang mencaci maki para sahabatku maka baginya laknat Allah, para malaikat dan seluruh manusia.” [Hadits riwayat Ath-Thabrani]

Larangan dalam hadits tersebut menunjukkan atas haramnya hal ini dan laknat yang ditimpakan kepada siapa saja yang mencela sahabat juga mengindikasikan haramnya hal tersebut.

قال أبو زرعة _رحمه الله تعالى_ ” إذا رأيت الرجل ينتقص أحدا من أصحاب رسول الله -صلى الله عليه وسلم- فاعلم أنه زنديق

Abu Zur’ah rahimahullah Ta’ala berkata, ”Jika kamu melihat seseorang merendahkan salah seorang shahabat Rasulullah ﷺ maka ketahuilah bahwa dia orang zindiq (orang yang menampakkan iman dan menyembunyikan kekafiran.)

Tanya Jawab Seputar Shahabat Nabi

Berikut ini beberapa pertanyaan yang seringkali dicari jawabanya oleh sebagian kalangan dari kaum Muslimin:

– Apa itu Shahabiyah Nabi?

Shahabiyah adalah sebutan bagi satu orang sahabat Nabi Muhammad ﷺ dari kalangan para wanita Muslimah. Jadi kalau satu orang sahabat laki-laki disebut dengan shahabiy kalau satu orang satu orang sahabat wanita disebut dengan shahabiyah.

– Berapa Jumlah Shahabat Nabi?

Para ulama menyebut angka yang berbeda-beda. Abu Zur’ah mengatakan,’Yang mengikuti haji wada’ bersama rasulullah ﷺ berjumlah 40 ribu orang dan yang ikut perang Tabuk 70 ribu orang.”

Imam Asy-Syafi’i berkata, ”Saat Rasulullah ﷺ wafat ada 60 ribu sahabat. 30 ribu di Madinah dan 30 ribu tersebar di berbagai kabilah Arab dan lainnya.”

Abu Zur’ah Ar-razi berkata, ”Rasulullah ﷺ wafat meninggalkan 114 ribu sahabat.”

Yang pasti, jumlah para sahabat Rasulullah ﷺ sangat banyak. Apalagi setelah kabilah-kabilah Jazirah Arab masuk Islam setelah Fathu Makkah. Namun penentuan dengan angka tertentu tadi tidak mungkin untuk dipastikan karena kita tahu tidak ada orang yang menghitung para sahabat saat Nabi ﷺ wafat.

Hal ini karena menghitung jumlah sahabat merupakan perkara yang sangat sulit kala itu setelah Islam tersebar dan muncul ke permukaan serta para pemeluknya terpencar-pencar ke berbagai penjuru.

Adapun jumlah tertentu yang disebutkan oleh sebagian ulama, maka bisa jadi itu merupakan ijtihadnya dalam menentukan jumlah mereka dan bisa jadi pula itu merupakan pengetahuan maksimal mereka dan sebagainya.[viii]

– Siapakah Shahabat Yang Terakhir Meninggal?

Sahabat Nabi ﷺ yang meninggal paling akhir secara mutlak adalah Abu Thufail ‘Amir bin Watsilah Al-Laitsi. Beliau meninggal pada tahun 110 H berdasarkan riwayat yang benar. Yang memberikan kepastian tentang hal ini adalah Muslim, Mush’ab Az-Zubairi, Ibnu Mandah, Al-Mizzi.[ix]

Demikian pembahasan tentang keutamaan dan sifat sahabat Nabi ﷺ. Semoga bisa menambah kecintaan kita kepada mereka dan menguatkan semangat kita untuk mengikuti jalan hidup mereka serta meneladani perikehidupan mereka.


[i] http://www.darululoom-deoband.com/arabic/magazine/tmp/1326879288fix3sub3file.htm

[ii] Al-Ahadits Al-Waridah fi Fadhailish Shahabah, Dr. Su’ud bin ‘Id bin ‘Umair, Al-Jami’ah Al-Islamiyah Madinah Munawwarah, Jilid 1, cetakan pertama, 1427 H, hal. 56-57.

[iii] Ibid, hal. 56-60.

[iv] http://www.saaid.net/mohamed/s/1.htm

[v] http://www.saaid.net/mohamed/s/1.htm

[vi] https://www.alukah.net/personal_pages/0/97539/

[vii] http://www.saaid.net/mohamed/s/1.htm

[viii] Al-Ahadist al – Waridah fi Fadhailish Shahabah, Dr. Su’ud bin ‘Id bin ‘Umair, Al-Jami’ah Al-Islamiyah Madinah Munawwarah, Jilid 1, cetakan pertama, 1427 H, hal. 103-105. Dengan diringkas.

[ix] Ibid, hal. 110.

Filed Under: Sejarah Islam

Pelajaran dari Perang Bani Nadhir

April 3, 2021 by Jam Digital Masjid Leave a Comment

Perang Bani Nadhir adalah perang melawan yahudi dari kabilah Bani Nadhir yang melakukan pengkhianatan terhadap perjanjian dengan Nabi Muhammad ﷺ dan telah melakukan upaya pembunuhan terencana secara rahasia terhadap Nabi ﷺ .

Namun Allah menggagalkan usaha tersebut dan mengganjar mereka dengan kekalahan perang tanpa ada pertempuran sama sekali. Mereka hanya dikepung selama beberapa hari dan kemudian menyerah. Dalam perang ini terdapat banyak pelajaran penting yang bisa dipetik.

Sedemikian pentingnya pelajaran dalam perang ini sampai-sampai Allah Ta’ala menurunkan satu surat penuh tentang perang ini, yaitu surat Al-Hasyr. Silahkan membaca tulisan ini lebih lanjut untuk mengetahui pelajaran penting apa saja yang terdapat dalam perang Bani Nadhir.

Siapa Bani Nadhir?

Bani Nadhir adalah Kabilah Yahudi yang tinggal di sebelah utara Jazirah Arab hingga abad ke 7 Masehi di Madinah Munawwarah (Yatsrib). Setelah perencanaan mereka bersama Quraisy untuk memerangi Madinah dalam perang perang Khandaq, Rasulullah Muhammad ﷺ memerintahkan untuk mengusir mereka dari Madinah Munawwarah. Setelah itu mereka bersekutu dalam perang Khaibar.[i]

Kapan Terjadinya Perang Bani Nadhir?

Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi berkata,”Para ahli sejarah yang telah melakukan proses penelitian mendalam (muhaqqiq dari kalangan ahli sejarah) berpandangan bahwa perang Bani Nadhir terjadi setelah perang Uhud di bulan Rabiul Awal tahun 4 Hijriyah.

Ibnul Qayyim membantah orang yang menyataan bahwa perang Bani Nadhir itu terjadi 6 bulan setelah perang Badar. Dia berkata,”Muhammad bin Syihab Az-Zuhri mengklaim bahwa perang Bani Nadhir terjadi 6 bulan setelah Badar. Ini merupakan sangkaan yang lemah atau kekeliruan yang dia lakukan.

Namun yang pasti adalah perang Bani Nadhir itu setelah Uhud. Sedangkan enam bulan setelah Badar adalah perang Bani Qainuqa’. Ada pun Quraizhah adalah setelah perang Khandaq dan Khaibar adalah setelah Hudaibyah. [Lihat Zaadul Ma’ad: 3/249]

Ibnul ‘Arabi berkata,”Yang benar perang Bani Nadhir itu setelah Uhud.” Dan Ibnu Katsir berpendapat seperti ini juga. [Lihat Haditsul Quran ‘anil ‘Ghazawat: 1/245][ii]

Latar Belakang Perang Bani Nadhir

Ada sejumlah sebab yang mendorong Nabi ﷺ memerangi Bani Nadhir dan mengusir mereka. Menurut Dr. Ali Ash-Shalabi, sebab-sebab yang paling penting adalah sebagai berikut:[iii]

  1. Bani Nadhir telah melanggar janji mereka bahwa mereka wajib untuk tidak mendukung musuh kaum Muslimin. Mereka tidak hanya melanggar janji ini saja, namun bahkan memberikan arahan kepada musuh tentang celah-celah keamanan dari wilayah Madinah.
  • Melakukan percobaan pembunuhan terhadap Nabi ﷺ.

Rasulullah ﷺ bersama sejumlah sahabat keluar menuju wilayah Bani Nadhir melalui jalur Quba’ hendak meminta bantuan kepada mereka dalam hal diat dua orang yang terbunuh dari Bani ‘Amir yang secara tidak sengaja dibunuh oleh ‘Amr bin Umayyah Adh-Dhamri yang berada dalam jaminan Rasulullah ﷺ untuk mereka berdua.

Hal ini merupakan pelaksanaan perjanjian antara Nabi ﷺ dan Bani Nadhir mengenai pembayaran diyat dan sebagai pengokohan atas adanya ikatan perjanjian dan persekutuan antara Bani Nadhir dan Bani ‘Amir.

Bani Nadhir menyambut Nabi ﷺ dengan sangat senang dan ramah. Sementara sebagian dari mereka saling berembug untuk membunuh Nabi ﷺ dan melanggar perjanjian dengannya. AKhirnya mereka sepakat untuk menjatuhkan batu besar ke atas kepala Nabi ﷺ dari atas dinding dekat tempat beliau duduk.

Akan tetapi Rasulullah ﷺ yang mendapatkan perlindungan dari Allah dan penjagaan-Nya mengetahui tujuan Bani Nadhir karena datang berita dari langit tentang rencana jahat mereka. Maka Rasulullah ﷺ bangkit dan segera pulang menuju Madinah kemudian segera diikuti oleh para sahabatnya. [lihat: Al-Waqidi: 1/365, At-Tarikh As-Siyasi wal ‘Askari, hal. 190]

Konspirasi Bani Nadhir yang digagalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut bukan hanya membidik Nabi ﷺ secara pribadi saja, namun menyasar Negara Madinah dan dakwah Islam secara keseluruhan.

Oleh karenanya, Nabi Muhammad ﷺ bertekad untuk memerangi Bani Nadhir, yang telah melanggar perjanjian dengannya dan mempersiapkan para sahabatnya untuk bersiap-siap memerangi mereka dan melakukan perjalanan menuju ke sana.

Sebab-sebab ini dan yang lainnya mengantarkan kepada memerangi Bani Nadhir. Al- Quran Al-Karim telah mengingatkan orang-orang beriman dengan nikmat yang agung ini dan bagaimana Allah telah menyelamatkan Nabi-Nya ﷺ dari makar Yahudi Bani Nadhir.

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اذْكُرُواْ نِعْمَتَ اللّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ هَمَّ قَوْمٌ أَن يَبْسُطُواْ إِلَيْكُمْ أَيْدِيَهُمْ فَكَفَّ أَيْدِيَهُمْ عَنكُمْ وَاتَّقُواْ اللّهَ وَعَلَى اللّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ -١١-

Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah nikmat Allah (yang diberikan) kepadamu, ketika suatu kaum bermaksud hendak menyerangmu dengan tangannya, lalu Allah Menahan tangan mereka dari kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah-lah hendaknya orang-orang beriman itu bertawakal. [Al-Maidah: 11]

Sejarah Singkat Perang Bani Nadhir

Sebuah riwayat shahih menyatakan bahwa sesungguhnya Rasulullah ﷺ mengirim satu batalion pasukan berkuda kaum Muslimin untuk mengepung Bani Nadhir. Beliau bersabda kepada mereka, “Sesungguhnya kalian tidak akan merasa aman di sisiku, kecuali bila kalian membuat perjanjian denganku.”

Mereka menolak membuat perjanjian, maka pada hari itu juga beliau dan kaum Muslimin memerangi mereka. Esoknya, beliau membawa satu batalion pasukan berkuda menemui Bani Quraizhah. Beliau juga mengajak mereka untuk membuat perjanjian dengan beliau.

Dikarenakan mereka mau membuat perjanjian, beliau lalu meninggalkan mereka dan kembali menemui Bani Nadhir. Setelah dikepung habis-habisan akhirnya mereka menyerah dan diusir dengan diperbolehkan membawa unta-unta mereka berikut muatannya, kecuali senjata.

Dengan membawa barang-barang yang diangkut oleh kawanan unta, mereka pulang ke kampung halaman mereka. Setelah mereka merobohkan rumah-rumah mereka, kayu-kayunya mereka angkut untuk dibawa pergi. [Abdurrazaq, Al-Mushannaf V/358-361; Abu Daud, Sunan Abu Daud III / 4O4-407; dan Al-Baihaqi, Dala’il An-Nubuwwah III / 446-448. Lihat Fathu Al-Bari VII/331.][iv]

Pelajaran Hikmah Perang Bani Nadhir

Dr. Ali bin Muhammad Ash-Shalabi berkata,”Al-Quran Al-Karim berbicara mengenai perang Bani Nadhir dalam satu surat penuh yaitu surat Al-Hasyr. ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menamai surat Al-Hasyr dengan surat Bani Nadhir.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Sa’id bin Jubair, dia berkata,”Aku bertanya kepada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang surat al-Hasyr, beliau berkata,”Surat An-Nadhir.”

Surat ini menjelaskan hal-hal yang meliputi perang ini, mendetailkan penjelasan tentang perang ini, menerangkan hukum-hukum fai’ dan siapa yang berhak atas fai’ tersebut serta menjelaskan sikap orang-orang munafik terhadap orang-orang Yahudi.

Surat ini juga menyingkap kejiwaan orang-orang Yahudi dan memberikan contoh-contoh hubungan antara orang-orang munafik dan orang-orang Yahudi. Di pertengahan pembicaraan mengenai perang ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengarahkan pesan-Nya kepada orang-orang mukmin.

Allah memerintah mereka untuk bertakwa kepada-Nya dan memperingatkan mereka dari bermaksiat kepada-Nya. Lalu Allah Subahanahu wa Ta’ala berbicara tentang Al-Quran Al-Karim, nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

Demikianlah masyarakat pada masa lalu dididik melalui peristiwa-peristwa di atas tauhid dan mengagungkan manhaj Allah dan bersiap-siap untuk hari kiamat. Dengan mencermati surat ini, kita bisa mengambil sejumlah pelajaran dan yang terpenting di antaranya adalah:

  1. Memuji Allah dan mengagungkan-Nya.

Allah Ta’ala berfirman:

سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ -١-

Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi bertasbih kepada Allah; dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. [Al-Hasyr: 1]

Pembukaan surat ini berupa pemberitahuan bahwa semua yang ada di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah dan memuji penciptanya dan mensucikan-Nya dari apa saja yang tidak layak untuk-Nya, beribadah kepada-Nya dan tunduk kepada keagungan-Nya.

Hal ini karena Allah itu Maha Perkasa yang menguasai segala sesuatu sehingga tidak ada sesuatu pun yang bisa menahan-Nya dan tidak ada sesuatu pun yang menyulitkan-Nya. Allah Ta’ala Maha Bijaksana dalam penciptaan-Nya dan perintah-Nya sehingga tidak pernah menciptakan sesuatu secara sia-sia.

Demikian pula Allah tidak pernah mensyariatkan sesuatu yang tidak ada maslahatnya dan tidak melakukan sesuatu kecuali memang merupakan tuntutan dari sifat-Nya yang Maha Bijaksana.

Di antaranya adalah pertolongan-Nya kepada Rasul-Nya ﷺ atas orang-orang kafir Ahli Kitab dari Bani Nadhir ketika mereka berkhianat terhadap Rasul-Nya ﷺ. Maka Allah mengusir mereka dari rumah mereka dan wilayah mereka yang mereka cintai.

  • Rasa takut adalah salah satu dari tentara Allah.

Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:

هُوَ الَّذِي أَخْرَجَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مِن دِيَارِهِمْ لِأَوَّلِ الْحَشْرِ مَا ظَنَنتُمْ أَن يَخْرُجُوا وَظَنُّوا أَنَّهُم مَّانِعَتُهُمْ حُصُونُهُم مِّنَ اللَّهِ فَأَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبُوا وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ يُخْرِبُونَ بُيُوتَهُم بِأَيْدِيهِمْ وَأَيْدِي الْمُؤْمِنِينَ فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ -٢-

 وَلَوْلَا أَن كَتَبَ اللَّهُ عَلَيْهِمُ الْجَلَاء لَعَذَّبَهُمْ فِي الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابُ النَّارِ -٣-

 ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ شَاقُّوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَمَن يُشَاقِّ اللَّهَ فَإِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ -٤-

Dia-lah yang Mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung halamannya pada saat pengusiran yang pertama. Kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin, benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah Mendatangkan (siksaan) kepada mereka dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah Menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka; sehingga mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangannya sendiri dan tangan orang-orang Mukmin. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan!

Dan sekiranya tidak karena Allah telah Menetapkan pengusiran terhadap mereka, pasti Allah Mengazab mereka di dunia. Dan di akhirat mereka akan mendapat azab neraka.

Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa menentang Allah, maka sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. [Al-Hasyr: 2-4]

  • Menghancurkan properti musuh.

Ketika Rasulullah ﷺ dan tentaranya sampai di wilayah Bani Nadhir dan mengepungnya, mereka berlindung di benteng-benteng. Maka Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk memotong pohon-pohon kurma dan membakarnya.

Lantas mereka berbicara dengan lantang,’Hai Muhammad! Kamu telah melarang dari kerusakan dan mencela orang yang melakukannya, lantas mengapa pohon-pohon kurma dipotong dan dibakar?”

Maka Allah menurunkan firman-Nya:

مَا قَطَعْتُم مِّن لِّينَةٍ أَوْ تَرَكْتُمُوهَا قَائِمَةً عَلَى أُصُولِهَا فَبِإِذْنِ اللَّهِ وَلِيُخْزِيَ الْفَاسِقِينَ -٥-

Apa yang kamu tebang di antara pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (itu terjadi) dengan izin Allah; dan karena Dia hendak Memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik. [Al-Hasyr: 5]

Syaikh Muhammad Abu Zahrah saat menerangkan masalah ini mengatakan bahwa pada prinsipnya tidak boleh memotong pepohonan dan menghancurkan bangunan kecuali itu merupakan tuntutan darurat perang yang tidak terhindarkan lagi.

Misalnya saja, musuh berlindung kepadanya atau musuh menjadikannya sebagai sarana untuk menyerang pasukan kaum Muslimin, maka hal ini tidak bisa dihindarkan adanya penebangan pohon dan penghancuran bangunan karena ini merupakan tuntutan darurat perang sebagaimana yang dilakukan Nabi ﷺ di sini dan di benteng Tsaqif.

  • Perkembangan kebijakan keuangan Negara Islam

Allah Subahanahu wa Ta’ala menjelaskan hukum harta yang diambil kaum Muslimin dari bani Nadhir setelah pengusiran terhadap mereka telah tuntas. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا أَفَاء اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مِنْهُمْ فَمَا أَوْجَفْتُمْ عَلَيْهِ مِنْ خَيْلٍ وَلَا رِكَابٍ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُسَلِّطُ رُسُلَهُ عَلَى مَن يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ -٦-

Dan harta rampasan fai’ ** dari mereka yang Diberikan Allah kepada Rasul-Nya, kamu tidak memerlukan kuda atau unta untuk mendapatkannya, tetapi Allah Memberikan kekuasaan kepada rasul-rasul-Nya terhadap siapa yang Dia Kehendaki. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. [Al-Hasyr: 6]

** catatan: Harta rampasan yang diperoleh dari musuh tanpa terjadinya pertempuran. Pembagiannya berlainan dengan pembagian ghanimah. Ghanimah ialah harta rampasan yang diperoleh dari musuh setelah terjadi pertempuran. Pembagian fai‘ seperti yang tersebut pada ayat 7. Sedang pembagian ghanimah tersebut pada ayat 41 surah 8 al-Anfāl.

Kemudian Allah Ta’ala menjelaskan hukum-hukum Fai’ di wilayah orang-orang kafir secara umum dengan firman-Nya:

لِلْفُقَرَاء الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَاناً وَيَنصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ -٨-

(Harta rampasan itu juga) untuk orang-orang fakir yang berhijrah yang terusir dari kampung halamannya dan meninggalkan harta bendanya demi mencari karunia dari Allah dan keridaan(-Nya) dan (demi) menolong (agama) Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.

Dengan demikian ghanimah dalam perang Bani Nadhir ini khusus untuk Rasulullah ﷺ. Oleh karenanya, Rasulullah ﷺ mengalokasikannya sesuai dengan yang beliau kehendaki. Beliau ﷺ mengalokasikan harta ghanimah tersebut dalam berbagai kebaikan dan masalahat yang Allah sebutkan dalam ayat ini.

Sebelum perang Bani Nadhir ghanimah perang dibagi di antara pasukan yang ikut serta setelah diambil seperlima untuk Negara Islam. Namun setelah perang Bani Nadhir ini, ada kebijakan baru yaitu, bila ada ghanimah yang didapatkan tanpa melalui kontak senjata dengan musuh maka ghanimah tersebut dikuasai oleh Negara dan dialokasikan oleh kepala negara sesuai dengan pertimbangan masalahat menurut kepala negara.

Misalnya, untuk penyelesaian masalah ekonomi negara, mengentaskan kemiskinan, membeli persenjataan, membangun kota, memperbaiki jalan dan seterusnya. Kepala negara Islam memiliki pertimbangan khusus dalam pengalokasian harta ini secara cepat sesuai tuntutan maslahat.

  • Keutamaan Muhajirin dan Anshar

Hal ini sebagaimana Allah sebutkan dalam firman-Nya:

لِلْفُقَرَاء الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَاناً وَيَنصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ -٨-

وَالَّذِينَ تَبَوَّؤُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ -٩-

(Harta rampasan itu juga) untuk orang-orang fakir yang berhijrah yang terusir dari kampung halamannya dan meninggalkan harta bendanya demi mencari karunia dari Allah dan keridaan(-Nya) dan (demi) menolong (agama) Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.

Dan orang-orang (Anshar) yang telah menempati kota Medinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. [Al-Hasyr: 8-9]

  • Sikap orang-orang munafik di Madinah.

Ayat-ayat yang mulia ini menjelaskan keadaan orang-orang munafik dan menerangkan sikap dan persekutuan mereka dengan saudara-saudara mereka dari kalangan orang Yahudi. Allah Ta’ala berfirman:

أَلَمْ تَر إِلَى الَّذِينَ نَافَقُوا يَقُولُونَ لِإِخْوَانِهِمُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَئِنْ أُخْرِجْتُمْ لَنَخْرُجَنَّ مَعَكُمْ وَلَا نُطِيعُ فِيكُمْ أَحَداً أَبَداً وَإِن قُوتِلْتُمْ لَنَنصُرَنَّكُمْ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ -١١-

Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudaranya yang kafir di antara ahli kitab, “Sungguh, jika kamu diusir niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapa pun demi kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantumu.” Dan Allah Menyaksikan, bahwa mereka benar-benar pendusta. [Al-Hasyr: 11]

Allah memberitahu kita tentang orang-orang munafik semisal Abdulah bin Ubai dan yang semisal dengannya ketika mereka mengutus utusan kepada Yahudi Bani Nadhir untuk menjanjikan mereka dukungannya.

Allah berfirman: “لِإِخْوَانِهِمُ” ‘kepada saudara-saudara mereka’ maksudnya adalah orang-orang yang ada persaudaraan kekafiran di antara mereka yaitu Yahudi Bani Nadhir. Allah menjadikan mereka sebagai saudara-saudaranya karena kekafiran telah menyatukan mereka meskipun kekafirannya berbeda jenis namun mereka bersaudara dalam kekafiran.

  • Pengharaman khamr.

Khamr diharamkan pada malam pengepungan Bani Nadhir di bulan Rabiul Awal tahun 4 Hijriyah. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاء فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَن ذِكْرِ اللّهِ وَعَنِ الصَّلاَةِ فَهَلْ أَنتُم مُّنتَهُونَ -٩١-

Dengan minuman keras dan judi itu, setan hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu, dan menghalang-halangi kamu dari mengingat Allah dan melaksanakan shalat maka tidakkah kamu mau berhenti? [Al-Maidah: 91]

  • Makar jahat hanya akan menimpa pembuatnya.

Makar yahudi dan konspirasi mereka terhadap hidup Nabi ﷺ dan Negara Islam sudah sampai puncak kejahatannya. Melalui makar dan pengkhianatan itu mereka menginginkan ketinggian, kemuliaan dan kemenangan. Namun Allah menghinakan mereka dan menyelamatkan Rasul-Nya dan kaum Muslimin dari makar mereka.

  • Tidak ada paksaan dalam agama.

Di kalangan Yahudi bani Nadhir terdapat sejumlah orang yang merupakan anak-anak orang Anshar yang telah menjadi Yahudi disebabkan oleh pendidikan mereka berada di pangkuan orang-orang yahudi.

Lantas, saudara-saudara mereka dari kalangan kaum Muslimin mencegah mereka dari pergi bersama orang-orang Yahudi (yang diusir). Maka Allah menurunkan firman-Nya:

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [Al Baqarah: 256][v]

Hukuman & Sanksi Bagi Bani Nadhir

Berdasarkan nash Al-Qur’an dan hadits, sesungguhnya Nabi ﷺ pada saat terjadi pengepungan tersebut membakar dan menebang pohon-pohon kurma milik Bani Nadhir. Berdasarkan perjanjian pengusiran, darah orang-orang Yahudi akan dilindungi.

Mereka diusir dari kampung halaman mereka, namun diperbolehkan membawa unta-unta mereka berikut muatannya yang terdiri berbagai jenis harta, kecuali senjata yang harus mereka tinggalkan untuk kaum Muslimin.[vi]

Tanya Jawab:

Berikut ini beberapa pertanyaan yang sering dicari jawabnya oleh sebagian kalangan. Semoga penjelasan singkat atas pertanyaan-pertanyaan ini bisa membantu mereka mencari jawabnya yang benar.

Apa Sebab Penamaan Perang Bani Nadhir?

Perang ini dinamakan dengan perang Bani Nadhir dalam literatur sejarah Islam karena perang ini adalah peperangan antara pasukan kaum Muslimin menghadapi salah satu kabilah Yahudi di Madinah yaitu Bani Nadhir.

Berapa Lama Perang Bani Nadhir Berlangsung?

Strategi yang digunakan oleh Rasulullah ﷺ dalam perang Bani Nadhir adalah dengan menggunakan cara pengepungan. Dalam sebuah riwayat mauquf pada seorang Tabi’in, Yazid bin Rauman, disebutkan bahwa Bani Nadhir dikepung selama 6 hari 6 malam. Riwayat ini menjadi kuat karena diikuti oleh riwayat Urwah bin Zubair dalam kitab Al-Maghazinya Uqbah bin Musa.[vii]

Siapa Pemimpin Perang Bani Nadhir?

Pemimpin Bani Nadhir dalam perang Bani Nadhir adalah Huyyai bin Akhthab, Salam bin Abu Al-Haqiq, Kinanah bin Rabi’.[viii] Dari ketiga orang tersebut yang paling berpengaruh dan paling berbahaya adalah Huyyai bin AKhthab.

Demikian penjelasan tentang pelajaran dari perang Bani Nadhir yang terjadi pada tahun ke 4 Hijriah setelah perang Uhud. Semoga bermanfaat. Apabila ada kebenaran di dalamnya maka itu dari rahmat Allah semata. Dan bila ada kesalahan maka itu dari kami dan setan. Allah dan Rasul-Nya berlepas diri darinya.


[i]https://www.marefa.org/%D8%A8%D9%86%D9%88_%D8%A7%D9%84%D9%86%D8%B6%D9%8A%D8%B1

[ii] As-Sirah An-Nabawiyah, ‘Ardhu Waqai’ wa Tahlilu Ahdats, Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi, Darul Ma’rifah, Beirut – Lebanon, cetakan ke 7, 1429 H / 2008 M, hal. 548-549.

[iii] Ibid, hal. 549-

[iv] Seleksi Sirah Nabawiyah, Studi Kritis Muhaditsin terhadap Riwayat Dha’if, Dr. Akram Dhiya’ Al-‘Umuri, Pustaka Darul Falah,, hal. 326

[v] As-Sirah An-Nabawiyah -Durus wa ‘Ibar – Dr. Mushthafa As-Siba’i, Al-Maktab Al-Islami, Beirut, Cetakan ke delapan, 1405 H / 1985 M. Hal. 553-562. Dengan diringkas.

[vi] Seleksi Sirah Nabawiyah, Studi Kritis Muhaditsin terhadap Riwayat Dha’if, Dr. Akram Dhiya’ Al-‘Umuri, Pustaka Darul Falah, hal.326-327.

[vii] ibid, hal. 324.

[viii] Ibid, hal. 327.

Filed Under: Sejarah Islam

  • « Previous Page
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • …
  • 11
  • Next Page »
Konsultasi