Pusat Jam Digital Masjid Murah Bergaransi

Pusat Produksi dan Jual Jam Digital Masjid - Jadwal Waktu Sholat Abadi Murah Bergaransi untuk Masjid, Jam Adzan dan Iqomah Otomatis. Hub: 0812 2890 1300

Produsen Jam Digital Masjid
Jadwal Sholat Digital
Jam Digital Waktu Adzan
Hitung Mundur Iqomah
Running Teks
Produk Digital LED
————–
Pemesanan
Konsultasi Produk
Free Ongkir/Subsidi Ongkir
WA: 0812 2890 1300
————–
Cara Setting / Service Kerusakan

Powered by Genesis

Keutamaan Takbaritul Ihram bersama Imam Masjid

February 8, 2020 by Jam Digital Masjid Leave a Comment

Di antara keutamaan bersegera menuju masjid adalah bisa mendapati takbiratul ihram bersama imam. Tentunya hal itu dapat dilakukan setelah mendengar tanda alarm jadwal sholat sudah berbunyi. Dan hal ini mengandung pahala yang besar.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda:

مَن صلى لله أربعين يومًا في جماعة يدرك التكبيرة الأولى كُتبت له براءتان : براءة من النار ، وبراءة من النفاق

“Barangsiapa melaksanakan shalat berjama’ah selama empat puluh hari karena Allah, dan dia mendapati takbiratul ihram, maka diwajibkan baginya dua pembebasan; pembebasan dari Neraka dan Pembebasan dari Sifat Munafik.” HR. At Tirmidzi (no. 241) secara marfu’ (sanadnya sampai kepada Nabi SAW) dan mauquf, namun at Tirmidzi lebih mengunggulkan yang mauquf. Hadits ini juga dihasankan oleh Al Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi (I/77)

Ath Thibi menjelaskan hadits itu: “Di dunia, Allah akan menjauhkan orang tersebut dari amalan orang yang munafik dan Dia akan memberinya taufik untuk dapat mengamalkan amalan orang-orang yang ikhlas. Adapun di akhirat, Allah akan menyelamatkannya dari adzab yang ditimpakan kepada orang yang munafik, atau Allah mempersaksikan bahwa dia bukanlah seorang munafik.

Karena orang-orang munafik itu, apabila mereka berdiri untuk menunaikan shalat, mereka berdiri dalam keadaan malas. Sedangkan keadaan orang ini berbeda dengan mereka. (Syarah ath Thibi (III/74)

Takbiratul Ihram Bersama Imam

An Nawawi berkata: “Disunnahkan untuk terus mendapat takbiratul ihram bersama imam denga ndatang ke masjid sebelum waktu iqamat…”

An Nawawi lantas melanjutkan: “Namun, para pengikut madzhab kami (asy Syafi’i) berbeda pendapat mengenai cara mendapati keutamaan takbiratul ihram. Dalam hal ini terdapat lima pendapat, dan yang paling shahih adalah pendapat yang menyatakan takbiratul ihram bisa diperoleh dengan hanya menyaksikan takbir imam, lalu setelahnya seseorang bisa menyibukkan diri untuk memulai shalatnya dengan takbir tanpa ada gangguan yang nyata (yaitu kekhawatiran tidak mendapati takbiratul ihram). Tetapi, jika orang itu terlambat dari takbirnya imam (karena imam sudah ruku’), berarti dia tidak mendapati keutamaan tersebut….”

Di antara bukti yang menunjukkan betapa mulianya takbiratul ihram adalah pernyataan seorang ulama berikut ini: “Apabila iqamat telah dikumandangkan, sementara seseorang sedang melakukan shalat sunnah, maka dia harus memutus shalat sunnah itu agar bisa mendapati shalat fardhu sejak awal.”

Tentunya ketika ingin mendapatkan Takbaritul Ihram bersama Imam Masjid, harus datang lebih awal dengan menjaga adab pergi ke masjid

Perbedaan Niat Imam dan Makmum dalam Shalat

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Sa’id bin Al Musayyib, bahwa dia menyatakan: “Tidaklah seorang pun muadzin mengumandangkan adzan sejak 30 tahun silam, melainkan aku telah berada di dalam masjid.”

Incoming search terms:

  • https://pusatjamdigital com/takbiratul-ihram-bersama-imam/ (1)

Filed Under: Artikel Tagged With: Fikih Seputar Masjid

Perbedaan Niat Imam dan Makmum Dalam Shalat. Sah kah?

February 7, 2020 by Jam Digital Masjid Leave a Comment

Bolehkah niat makmum berbeda dengan niat imam ketika shalat di masjid? Bagaimana rinciannya?

Di antara hukum memasuki masjid yang perlu diketahui adalah tidak disyaratkannya persamaan niat imam dan makmum. Juga, perbedaan niat imam dengan makmum tidaklah menghalangi keabsahan menjadi makmum.

Perbedaan Niat Imam dan Makmum dalam Shalat

Ada 3 Kemungkinan Perbedaan Niat Imam dan Makmum:

1. Orang yang melakukan shalat fardhu bermakmum kepada orang yang menjalankan shalat sunnah

Contohnya adalah ketika orang yang memasuki masjid ketika imam sedang melaksanakan shalat tarawih. Bila keadaannya seperti ini, ia boleh shalat Isya’ di belakang imam sebanyak dua rekaat, lalu – setelah imam melakukan salam shalat Tarawihnya- dia berdiri lagi untuk melengkapi dua rakaat berikutnya.

Inilah pendapat imam Syafi’i dan para pengikutnya, juga merupakan salah satu riwayat dari Imam Ahmad yang dipilih Ibnu Qudamah dan Ibnu Taimiyah

Ketentuan ini berdasarkan keterangan yang berasal dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, bahwa Mu’adz radhiyallahu ‘anhu pernah shalat Isya’ bersama Nabi SAW lalu dia kembali kepada kaumnya. Lantas dia melakukan shalat tersebut bersama mereka.

2. Orang yang mengerjakan shalat sunnah bermakmum kepada orang yang melaksanakan shalat fardhu

Misalnya, seseorang memasuki masjid dan dia menjumpai masjid sedang melakukan shalat tertentu. Sementara dia telah melakukan shalat itu.

Maka, dia boleh melakukan shalat tersebut bersama mereka. Sungguh, shalat tersebut menjadi shalat nafilah (yang berhukum sunnah) baginya.

3. Orang yang melaksanakan shalat fardhu bermakmum kepada orang yang melaksanakan shalat fardhu lainnya.

Misalnya, seseorang masuk ke dalam masjid dalam keadaan belum melakukan shalat dzuhur. Sedangkan saat itu, imam sedang melakukan shalat ‘Ashar. Maka, dia boleh melakukan shalat di belakang imam dengan niat shalat Zhuhur, kemudian setelah selesai, dia baru melaksanakan shalat ‘Ashar.

Ini dilakukan karena adanya kewajiban tertib atau berurutan dalam shalat. Perlu dipahami pula, kewajiban tertib dalam hal ini tidak menjadi gugur hanya karena adanya kekhawatiran tertinggal jama’ah.

Demikin pula, seseorang diperbolehkan melakukan shalat Zhuhur, ‘Ashar, Maghrib, atau Isya di belakang orang yang melakukan shalat Shubuh, dengan syarat kedua shalat tersebut tidak saling bertentangan dalam hal gerakan yang tampak. Hal ini berdasarkan hadits: “Maka janganlah kalian menyelisihinya.”

Dengan demikian, tidak boleh melaksanakan shalat Zhuhur di belakang orang yang melakukan shalat Kusuf ketika terjadi gerhana Matahari- misalnya.

Ini adalah pendapat para ulama madzhab Syafi’i. Serta pendapat yang dinukil dari salah satu riwayat Imam Ahmad yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, berdasarkan kisah Mu’adza radhiyallahu ‘anhu.

Dan hadits tersebut menunjukkan tidak ada pengaruh apa-apa yang ditimbulkan atas perbedaan niat imam dan makmum dalam shalat fardhu. Sama halnya dengan pendapat yang terpilih pada pembahasan kita kali ini.

Perbedaan niat shalat fardhu tertentu dan shalat fardhu lainnya tidaklah berpengaruh terhadap mushalli. Maka, dapat diketahui bahwa siapa saja yang melarang hal itu pasti akan berdalil dengan argumentasi yang telah disebutkan, sehingga bantahan untuknya pun sebagaimana telah disebutkan pula.

Kesimpulan Shalat Makmum dan Imam Yang Berbeda Niat

1. Orang yang melakukan shalat fardhu boleh menjadi makmum bagi orang yang shalat sunnah
2. Orang yang shalat Sunnah boleh menjadi makmum bagi orang yang shalat fardhu
3. Orang yang shalat fardhu boleh menjadi makmum bagi orang yang shalat fardhu lainnya.

 

 

Filed Under: Artikel Tagged With: Fikih Seputar Masjid

  • 1
  • 2
  • Next Page »
Konsultasi